Langsung ke konten utama

Sejarah Kurikulum Dalam 66 Tahun


Kurikulum pendidikan nasional sudah mengalami perubahan sejak dua tahun Indonesia merdeka. Perubahan ini sebagai konsekuensi logis dari dinamika politik, sosial politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan serta teknologi. Selama 66 tahun itu, kurikulum pendidikan setidaknya sudah lima kali dirombak.

     1. Tahun 1947-1964

Pada saat ini dikenal dengan kurikulum pendidikan masa kemerdekaan. Ciri khasnya, kurikulum masih dipengaruhi oleh sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang. Titik beratnya adalah pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka, berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain. Memasuki 1952, kurikulum pendidikan mengalami penyempurnaan, yang mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional.

Menjelang 1964, dilakukan kembali penyempurnaan kurikulum, yang dinamakan Rencana Pendidikan 1964. Ciri dari kurikulum ini adalah penekanan pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang sekolah dasar. Saat itu dikenal dengan program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.

     2. Tahun 1968-1975

Masa ini dikenal dengan pembaharuan kurikulum. Terjadi perubahan struktur dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Era ini merupakan perwujudan dari orientasi pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Penekanannya adalah membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

Sebagai pengganti kurikulum 1968 adalah kurikulum 1975. Ciri khasnya menggunakan pendekatan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), mengarah kepada tercapainya tujuan spesifik, yang dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.

     3. Tahun 1984-1994

Era ini dikenal dengan kurikulum berbasis keterampilan. Menjelang 1983, kurikulum 1975 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan. Pemerintah menggantikannya dengan kurikulum 1984, yang berorientasi kepada tujuan instruksional. Landasan berpikirnya, waktu belajar siswa di sekolah sangat terbatas karena itu harus benar-benar fungsional dan efektif.

Pendekatan pengajarannya menjadi berpusat pada anak didik melalui Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pendekatan pengajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal. Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan model bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.

    4. Tahun 2004-2006

Kurikulum berbasis kompetensi. Perubahan ini dipicu oleh munculnya beberapa masalah dalam kurikulum 1994. Di antaranya beban belajar siswa dianggap terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran. Ditambah lagi dengan munculnya UU Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Sebagai konsekuensinya terjadi perubahan struktural dalam penyelenggaraan pendidikan, karena itu dilakukannya perombakan kurikulum lagi.

Kurikulum 2004 diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai standar yang ditetapkan. Artinya pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu mampu berkompetensi secara handal. Maka di sekolah muncul seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi dan berorientasi pada hasil belajar.

     5. Tahun 2013/2014

Kurikulum berbasis karakter. Format kurikulum yang sedang disusun ini bisa disebut dengan pendidikan membangun sikap anak. Seperti melatih kejujuran, integritas, disiplin, dan memiliki sikap saling menghargai. Kurikulum ini akan menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, yang digunakan saat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi TIK Dalam Kurikulum Sebagai Tantangan Era Digital

Pengembangan kurikulum dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah ilmu dan teknologi dan oleh karenanya harus mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital abad ke-21 ini. Apalagi sepuluh tahun terakhir dunia pendidikan kita khususnya dalam bidang teknologi pembelajaran dihadapkan oleh berbagai tantangan terkait dengan peran teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Radikalisme TIK menuntut perubahan paradigma pembelajaran yang terpusat pada guru berubah ke pola pembelajaran yang menumbuhkan kreatifitas dan kemandirian siswa merupakan suatu tuntutan. Penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar memungkinkan proses pendidikan yang lebih interaktif dan membekali siawa dengan kemandirian yang dibutuhkan di era digital ini, yaitu ICT literacy, kemampuan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis dan problem solver.  Dengan ditunjang semakin murah, mudah, dan cepatnya akses internet bukan alasan lagi jika guru mulai mengintegrasikan TIK ...

PROGRAM TRANSFORMASI: LANGKAH PENTING BAGI KESUKSESAN (Bagian 3)

  “Transformasi digital pendidikan sama pentingnya dengan perubahan budaya seperti halnya teknologi.” Mr. Sunil Hettiarachchi Sekretaris Kementerian Pendidikan Sri Lanka “Hal pertama yang biasanya dipikirkan orang adalah perangkat. Namun, transformasi digital lebih dari sekadar teknologi. Nyatanya, Anytime Anywhere Learning Foundation memperkirakan bahwa kurang dari 10 persen pekerjaan yang diperlukan untuk membuat one-to-one  berhasil melibatkan perangkat.” Bruce Dixon, Mitra Pendiri, Anytime Anywhere Learning Foundation   Lalu, apa jawabannya? Mulailah dengan berinvestasi dalam pengembangan visi bersama yang kuat. Dokumen visi merupakan pengungkapan keadaan akhir yang diinginkan. Rasio perangkat one-to-one  bukanlah deskripsi yang memadai tentang keadaan yang diinginkan, melainkan sebatas cara untuk mewujudkannya. Alih-alih, visi tersebut mengungkapkan apa yang dimungkinkan oleh teknologi ini dalam konteks pembelajar, sekolah, sistem, dan masyarakat. Untuk mendapat...

PEMBELAJARAN PROFESIONAL UNTUK PENGAJAR

  5 bidang yang memiliki dampak yang terbukti positif :   1.   Pendampingan dan Pembinaan Menurut Smith dan Ingersoll, pendampingan dan pembinaan intensif yang mencakup observasi kelas serta umpan balik yang teratur membantu meningkatkan kualitas pengajar. Pendampingan dan pembinaan adalah cara bagus untuk membantu pengajar mendiagnosa kebutuhan pembelajaran peserta didik, mengembangkan keterampilan manajemen kelas, dan mengambil pedagogi baru yang spesifik untuk mata pelajaran mereka.   2.   Kelompok Mata Pelajaran dan Kelas Pengajar membuat peningkatan dnegan saling mengamati ruang kelas, mengenali dan memecahkan masalah yang muncul, serta bersama-sama meningkatkan pembelajaran setiap peserta didik. Kelompok mata pelajaran dan kelas adalah cara fantastis untuk menyatukan para pengajar sehingga mereka dapat lebih mudah mendiskusikan berbagai pendekatan, merencanakan mata pelajaran, dan memeriksa kemajuan peserta didik. Bekerja dan belajar bersama juga telah ter...