Langsung ke konten utama

Membentuk Anak Didik Berkarakter


Korea dan Jepang merupakan negara yang memiliki sumber daya alam minim jika dibandingkan dengan Indonesia. Namun secara umum kedua negara itu memiliki tingkat kehidupan lebih baik. Mereka mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah yang laku dipasaran dunia.

Apa yang membuat mereka sanggup menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai tambah sehingga menghasilkan devisa yang sangat tinggi? Jawabannya adalah kreativitas.

Bangsa kita bukan bangsa yang tidak kreatif. Hal ini dapat dilihat dari produk teknologi hingga karya seni yang bertebaran dan dikenal di mancanegara. Memang, karya teknologi bangsa ini masih kalah dibanding negara lain, termasuk Korea dan Jepang.

Kreativitas dan ilmu pengetahuan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan untuk menghasilkan karya teknologi bermutu dan mampu menguasai pasar. Melalui produk kreatif pula, kesejahteraan penduduk sebuah bangsa turut terangkat.

Pada dasarnya kreativitas adalah kemanpuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bersifat orisinil. Menurut dictionary.com, kreativitas dimaknai sebagai: ".... the ability to transcend traditional ideas, rules, patterns, relationships, or the like, and to create meaningful new ideas, forms, methods, interpretations, etc."

Kreativitas dimaknai sebagai proses menciptakan sesuatu dengan memanfaatkan kemampuan kreatif. Menurut Mumford (2003) kreativitas berhubungan dengan proses dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menciptakan sesuatu bersifat baru dan asli.

Langkah kreatif sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan dan persaingan. Dengan kemampuan kreatifitasnya, seorang individu akan mampu mengatasi masalah. Bahkan sanggup mengubah tantangan menjadi produk yang memiliki nilai tambah tinggi.

Pemerintah Jepang dan Korea yang memiliki sumber daya alam terbatas mampu mengatasi masalah dengan menciptakan produk teknologi yang berkualitas tinggi dan merajai pasaran. Seorang kreatif mampu membayangkan (to imagine) dan menemukan (to invent) serta memecahkan masalah (to solve problem) dengan menciptakan sesuatu yang baru (innovative) dan bermanfaat bagi orang lain.

Kreativitas menjangkau semua bidang kehidupan ekonomi, sain, teknologi dan juga seni. Menurut Goleman, ilmuwan yang bergelut dengan penelitian tentang kreativitas, proses kreatif ditandai dengan beberapa karakteristik. Seperti keinginan untuk menghasilkan inovasi, menggali metoda baru, dan motivasi untuk membuat mimpi menjadi kenyataan.

Proses kreatif pada dasarnya merupakan kemampuan yang diperlukan dalam memecahkan masalah. Proses ini dimulai dengan munculnya sebuah gagasan inspiratif dalam diri seseorang. Adanya inspirasi yang merupakan langkah awal dalam proses kreatif diikuti dengan proses lainnya yaitu: klarifikasi, evaluasi, distilasi, inkubasi, dan perspirasi.

Setelah memperoleh inspirasi seseorang akan melakukan klarifikasi terhadap ide dan gagasan inspiratif yang ada dalam pikirannya. Ide dan gagasan yang telah diklarifikasi selanjutnya akan dievaluasi atau dikaji kemungkinannya untuk mewujudkan ide atau gagasan tersebut.

Proses selanjutnya adalah distilasi yaitu upaya untuk memutuskan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan ide atau gagasan. Proses distilasi diikuti dengan proses inkubasi yaitu meninggalkan sejenak dan melakukan pengamatan tentang bekerjanya ide atau gagasan tersebut setelah dikembangkan.

Langkah terakhir adalah perspirasi yaitu memutuskan alternatif atau pilihan terbaik yang perlu diambil dan diaplikasikan untuk merealisasikan gagasan.

Proses kreatif perlu ditanamkan sejak dini, misalnya dalam aktivitas belajar anak di sekolah. Siswa perlu dibiasakan mencoba sesuatu yang sesuai keinginannya. Sementara itu guru menanamkan kepercayaan kepada muridnya bahwa mereka memiliki kemampuan kreatif.

Bloom (1963) mengemukakan tujuan pembelajar kognitif merupakan pembeŕklajaran yang berkaitan dengan intelektual inividu. Kawasan kognitif terdiri dari beberapa tahap mulai dari yang rendah sampai yang tinggi: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).

Daya kreatif merupakan ranah kognitif seseorang melakukan sintesis. Dalam hal ini, sintesis dapat dimaknai sebagai kemampuan menggabungkan hal-hal yang pernah dipelajari menjadi sesuatu yang bersifat baru dan orisinil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya aktivitas pembelajaran di sekolah hanya sebatas kemampuan menghapal dan memahami konsep.

Siswa dibiasakan melakukan sintesis terhadap pengetahuan yang dipelajari, sehingga mampu mencipta sesuatu yang baru. Aktivitas pembelajaran perlu didesain agar lebih menantang siswa dan lebih bersifat kontekstual. Siswa perlu melihat bagaimana ilmu pengetahuan digunakan menghasilkan produk bermanfaat.

Kreativitas erat kaitannya dengan kemampuan berpikir kritis dan berpikir divergen. Dalam mengatasi suatu masalah siswa perlu dilatih untuk tidak hanya melahirkan satu cara pemecahan masalah saja. Langkah lainnya mesti mencari solusi yang efektif dan efisien. Salah satu karakteristik dari inividu yang kreatif adalah mampu menemukan alternatif dalam memilih solusi.

Pembelajaran kreatif perlu dilakukan sejak usia dini pada semua bidang pengetahuan dan kecakapan. Ada beberapa langkah mendorong supaya individu menjadi kreatif. Antara lain memberi kesempatan dan fasilitas kepada siswa untuk melakukan aktivitas yang bersifat kreatif. Mengajukan permasalahan yang menantang untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

Berikutnya membiasakan siswa untuk berpikir divergen dengan mengemukakan beragam alternatif pemikiran dan gagasan. Mendorong kerja sama atau kolaborasi untuk menemukan jawaban atau solusi yang tepat dalam mengatasi masalah. Menjadikan proses belajar sebagai sesuatu peristiwa dan pengalaman belajar yang menyenangkan (fun learning) yang memberi kemungkinan siswa untuk dapat mengekspresikan gagasan dan pemikiran.

Menjadi bangsa yang kreatif dimulai dari individu. Individu yang kreatif akan menghasilkan produk dan pemikiran inovatif. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan citra sebagai bangsa yang kreatif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi TIK Dalam Kurikulum Sebagai Tantangan Era Digital

Pengembangan kurikulum dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah ilmu dan teknologi dan oleh karenanya harus mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital abad ke-21 ini. Apalagi sepuluh tahun terakhir dunia pendidikan kita khususnya dalam bidang teknologi pembelajaran dihadapkan oleh berbagai tantangan terkait dengan peran teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Radikalisme TIK menuntut perubahan paradigma pembelajaran yang terpusat pada guru berubah ke pola pembelajaran yang menumbuhkan kreatifitas dan kemandirian siswa merupakan suatu tuntutan. Penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar memungkinkan proses pendidikan yang lebih interaktif dan membekali siawa dengan kemandirian yang dibutuhkan di era digital ini, yaitu ICT literacy, kemampuan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis dan problem solver.  Dengan ditunjang semakin murah, mudah, dan cepatnya akses internet bukan alasan lagi jika guru mulai mengintegrasikan TIK ...

PROGRAM TRANSFORMASI: LANGKAH PENTING BAGI KESUKSESAN (Bagian 3)

  “Transformasi digital pendidikan sama pentingnya dengan perubahan budaya seperti halnya teknologi.” Mr. Sunil Hettiarachchi Sekretaris Kementerian Pendidikan Sri Lanka “Hal pertama yang biasanya dipikirkan orang adalah perangkat. Namun, transformasi digital lebih dari sekadar teknologi. Nyatanya, Anytime Anywhere Learning Foundation memperkirakan bahwa kurang dari 10 persen pekerjaan yang diperlukan untuk membuat one-to-one  berhasil melibatkan perangkat.” Bruce Dixon, Mitra Pendiri, Anytime Anywhere Learning Foundation   Lalu, apa jawabannya? Mulailah dengan berinvestasi dalam pengembangan visi bersama yang kuat. Dokumen visi merupakan pengungkapan keadaan akhir yang diinginkan. Rasio perangkat one-to-one  bukanlah deskripsi yang memadai tentang keadaan yang diinginkan, melainkan sebatas cara untuk mewujudkannya. Alih-alih, visi tersebut mengungkapkan apa yang dimungkinkan oleh teknologi ini dalam konteks pembelajar, sekolah, sistem, dan masyarakat. Untuk mendapat...

PEMBELAJARAN PROFESIONAL UNTUK PENGAJAR

  5 bidang yang memiliki dampak yang terbukti positif :   1.   Pendampingan dan Pembinaan Menurut Smith dan Ingersoll, pendampingan dan pembinaan intensif yang mencakup observasi kelas serta umpan balik yang teratur membantu meningkatkan kualitas pengajar. Pendampingan dan pembinaan adalah cara bagus untuk membantu pengajar mendiagnosa kebutuhan pembelajaran peserta didik, mengembangkan keterampilan manajemen kelas, dan mengambil pedagogi baru yang spesifik untuk mata pelajaran mereka.   2.   Kelompok Mata Pelajaran dan Kelas Pengajar membuat peningkatan dnegan saling mengamati ruang kelas, mengenali dan memecahkan masalah yang muncul, serta bersama-sama meningkatkan pembelajaran setiap peserta didik. Kelompok mata pelajaran dan kelas adalah cara fantastis untuk menyatukan para pengajar sehingga mereka dapat lebih mudah mendiskusikan berbagai pendekatan, merencanakan mata pelajaran, dan memeriksa kemajuan peserta didik. Bekerja dan belajar bersama juga telah ter...