Langsung ke konten utama

Jelajah Alam Untuk Pendidikan


Sebagai sebuah pendekatan, belajar melalui Jelajah Alam Sekitar (JAS) memanfaatkan alam sekitar peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, budaya sebagai obyek belajar dengan mempelajari fenomenanya melalui karya ilmiah. Pendekatan ini menekankan pada kegiatan belajar yang dikaitkan dengan situasi dunia nyata. Selain dapat membuka wawasan berpikir yang beragam, hasil belajarnya kelak lebih berdaya guna bagi kehidupannya.

Menurut Ridlo (2005), ciri kegiatan pembelajaran dengan pendekatan penjelajahan alam sekitar adalah:

  1. Selalu dikaitkan dengan alam sekitar secara langsung maupun menggunakan media.
  2. Selalu ada kegiatan peramalan, pengamatan, dan penjelasan.
  3. Selalu ada laporan untuk dikomunikasikan baik secara lisan, tulisan, gambar, foto atau audiovisual.
Model pembelajaran yang dapat ditetapkan dalam kegiatan berpusat pada keaktifan siswa, lebih bermakna sosial, memanfaatkan multi resources dan assessment yang berbasis mastery learning. Di samping itu model belajar yang relevan dan dapat dilakukan dalam pembelajaran ini adalah pembelajaran kontekstual, pembelajaran kooperatif serta model belajar lain yang menuntut keaktifan siswa.

Pendekatan ini menekankan pada gaya dalam menyampaikan materi yang meliputi sifat, cakupan dan prosedur kegiatan yang eksploratif, memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik. Pendekatan belajar Jelajah Sekitar secara komprehensif memadukan berbagai pendekatan antara lain eksplorasi dan investigasi, konstruktivisme, keterampilan proses dengan cooperative learning.

Dalam mengimplementasikan sistem belajar, guru harus memahami prinsip-prinsip perkembangan anak, seperti yang dikemukakan NAEYC (Bredekamp and Copple, 1997) sebagai berikut: (a) Perkembangan berlangsung sebagai suatu keseluruhan meliputi aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif yang saling terjalin, (b) Perkembangan terjadi dalam suatu urutan yang relatif dapat diprediksi, (c) Perkembangan berlangsung dengan rentang yang bervariasi antar anak dan juga antar bidang perkembangan dari masing-masing fungsi, (d) Pengalaman awal memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak, (e) Perkembangan berlangsung dalam arah yang dapat diprediksi, yaitu ke arah kompleksitas, kekhususan, organisasi, dan pemahaman yang lebih meningkat, (f) Perkembangan dan belajar terjadi dalam dan dipengaruhi oleh konteks sosial budaya.

Prinsip-prinsip perkembangan anak yang lain: (a) Anak adalah pebelajar afktif. Mereka mengambil pengalaman fisik, sosial, dan pengetahuan yang disampaikan untuk membangun pemahamannya tentang lingkungan sekitar, (b) Perkembangan dan belajar merupakan hasil interaksi kematangan biologis dan lingkungan yang mencakup fisik dan sosial, (c) Bermain merupakan suatu sarana penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak, dan menggambarkan perkembangan anak, (d) Perkembangan dapat mengalami percepatan bila anak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru diperoleh, (e) Anak mendemonstrasikan kemampuan dasar untuk mengetahui dan belajar yang berbeda serta cara berbeda pula dalam memperlihatkan apa yang mereka tahu, (f) Anak berkembang dan belajar terbaik dalam suatu konteks komunitas yang menghargai, memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya, dan aman baik secara fisik maupun psikologis.

Dalam mengimplementasikan pendekatan JAS guru hendaknya juga memahami komponen-komponen pendekatan ini. Eksplorasi dalam arti pendekatan JAS seorang peserta didik diajak melakukan interaksi dengan fakta yang ada di lingkungan alam (sosial, budaya) sehingga menemukan pengalaman.

Konstruktivisme artinya pengetahuan sebagai proses pembentukan. Pengetahuan seseorang akan berkembang melalui interaksi dengan alam lingkungannya. Seseorang berinteraksi dengan lingkungannya melalui alat inderanya, melihat, mendengar, menyentuh, mencium dan merasakannya. Tidak semua pengetahuan dapat dipindahkan begitu saja dari otak seorang guru kepada siswa. Peserta didik sendiri yang harus mengartikan pelajaran yang disampaikan guru dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya.

Edutainment artinya bahwa pembelajaran Jelajah Alam Sekitar (JAS) dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan, tidak membosankan, sehingga peserta didik belajar dengan bergairah. Pembelajaran dilaksanakan terintegrasi, menggunakan berbagai sumber belajar. Pembelajaran JAS menekankan pada siswa aktif dan kritis, jadi pembelajaran berpusat pada siswa, dipandu oleh guru yang kreatif.


Pustaka :

Ridlo, S. 2005. Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). Makalah Seminar dan Lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Desain Inovasi Pembelajaran Jurusan Biologi FMIPA UNNES.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Integrasi TIK Dalam Kurikulum Sebagai Tantangan Era Digital

Pengembangan kurikulum dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah ilmu dan teknologi dan oleh karenanya harus mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital abad ke-21 ini. Apalagi sepuluh tahun terakhir dunia pendidikan kita khususnya dalam bidang teknologi pembelajaran dihadapkan oleh berbagai tantangan terkait dengan peran teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Radikalisme TIK menuntut perubahan paradigma pembelajaran yang terpusat pada guru berubah ke pola pembelajaran yang menumbuhkan kreatifitas dan kemandirian siswa merupakan suatu tuntutan. Penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar memungkinkan proses pendidikan yang lebih interaktif dan membekali siawa dengan kemandirian yang dibutuhkan di era digital ini, yaitu ICT literacy, kemampuan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis dan problem solver.  Dengan ditunjang semakin murah, mudah, dan cepatnya akses internet bukan alasan lagi jika guru mulai mengintegrasikan TIK ...

PROGRAM TRANSFORMASI: LANGKAH PENTING BAGI KESUKSESAN (Bagian 3)

  “Transformasi digital pendidikan sama pentingnya dengan perubahan budaya seperti halnya teknologi.” Mr. Sunil Hettiarachchi Sekretaris Kementerian Pendidikan Sri Lanka “Hal pertama yang biasanya dipikirkan orang adalah perangkat. Namun, transformasi digital lebih dari sekadar teknologi. Nyatanya, Anytime Anywhere Learning Foundation memperkirakan bahwa kurang dari 10 persen pekerjaan yang diperlukan untuk membuat one-to-one  berhasil melibatkan perangkat.” Bruce Dixon, Mitra Pendiri, Anytime Anywhere Learning Foundation   Lalu, apa jawabannya? Mulailah dengan berinvestasi dalam pengembangan visi bersama yang kuat. Dokumen visi merupakan pengungkapan keadaan akhir yang diinginkan. Rasio perangkat one-to-one  bukanlah deskripsi yang memadai tentang keadaan yang diinginkan, melainkan sebatas cara untuk mewujudkannya. Alih-alih, visi tersebut mengungkapkan apa yang dimungkinkan oleh teknologi ini dalam konteks pembelajar, sekolah, sistem, dan masyarakat. Untuk mendapat...

PEMBELAJARAN PROFESIONAL UNTUK PENGAJAR

  5 bidang yang memiliki dampak yang terbukti positif :   1.   Pendampingan dan Pembinaan Menurut Smith dan Ingersoll, pendampingan dan pembinaan intensif yang mencakup observasi kelas serta umpan balik yang teratur membantu meningkatkan kualitas pengajar. Pendampingan dan pembinaan adalah cara bagus untuk membantu pengajar mendiagnosa kebutuhan pembelajaran peserta didik, mengembangkan keterampilan manajemen kelas, dan mengambil pedagogi baru yang spesifik untuk mata pelajaran mereka.   2.   Kelompok Mata Pelajaran dan Kelas Pengajar membuat peningkatan dnegan saling mengamati ruang kelas, mengenali dan memecahkan masalah yang muncul, serta bersama-sama meningkatkan pembelajaran setiap peserta didik. Kelompok mata pelajaran dan kelas adalah cara fantastis untuk menyatukan para pengajar sehingga mereka dapat lebih mudah mendiskusikan berbagai pendekatan, merencanakan mata pelajaran, dan memeriksa kemajuan peserta didik. Bekerja dan belajar bersama juga telah ter...